Tampilkan postingan dengan label Darl. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Darl. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Menjadi karyawan atau pengangguran.


Bila pertanyaan ini saya tanyakan pada sahabat-sahabat baik saya, mungkin sudah pasti semua menjawab ‘menjadi karyawan’. Itu sebabnya semua sahabat dan saudara dekat saya tidak mendukung saat saya memilih jadi pengangguran. Saya sendiri menganggap pilihan ini pilihan orang idiot.. hehe.. but it's my life.

Nikmatnya jadi karyawan
Kemudian apa yang terjadi bila pertanyaan ini saya rubah menjadi “pilih jadi karyawan atau pengusaha?” hmm… mungkin saya akan dapat jawaban yang beragam. Bagi mereka yang sukses sebagai pengusaha, mungkin jawabannya beda dengan orang yang pernah gagal jadi pengusaha dan hidup tenang dan terjamin sebagai karyawan.
Saya yakin setiap orang mempunyai pilihan yang berbeda dalam hidupnya dan seorang sahabat baik  pasti menghormati perbedaan pilihan-pilihan sahabatnya, dan bahkan akan membantu sahabatnya berbahagia dalam pilihan-pilihannyaitu.
Kemudian bagaimana bila pertanyaan saya rubah lagi menjadi:

Apa yang saya inginkan?
Jika yang saya inginkan adalah kekayaan dan keamanan, mungkin saya tidak perlu berhenti dari pekerjaan saya sebagai karyawan. Saya juga dapat menjadi kaya melalui jalur karyawan. Saya banyak melihat karyawan yang sukses menikmati gaji dan fasilitas yang memungkinkan mereka hidup mewah. Mereka juga bisa menabung, bahkan memutarkan kelebihan uang ke saham, properti dan franchise. Terlihat sangat jelas pendapatan mereka jauh lebih baik daripada pemilik usaha kecil. 

Trus, kenapa saya berhenti jadi karyawan?
Setelah hampir 6 tahun merasakan nikmatnya jadi karyawan, saya merasa ada dua hal yang kurang dalam hidup saya.
·        Yang pertama adalah waktu. Saya ingin menentukan waktu saya sendiri. Sebagai karyawan saya terikat waktu kerja. Apakah jadi pengusaha bebas waktu? Tentu tidak, saya tau ini bukan berarti jadi pengusaha bebas dalam waktu. Bahkan saya sering melihat pengusaha yang di kala sibuk, mereka bekerja 18 jam sehari dan 7 hari seminggu. (Oh! Ini lebih buruk daripada jadi pengusaha dong??). Betul, namun sebagai gantinya, di waktu senggang, mereka bebas mengunakan waktu. Mereka  bebas jalan-jalan bersama keluarga dan teman-temannya.
·        Yang kedua adalah kebebasan …Kebebasan disini bukan berarti bebas bersantai semaunya, yang saya perhatikan pengusaha itu bebas membuat keputusan. Mereka tidak perlu meminta izin atasan. Trus apa dampaknya? Memang dampak yang sangat berbeda, sebagai karyawan bila saya melakukan kesalahan, perusahaan akan menanggung kesalahan saya. Namun sebagai pengusaha, bila saya yang melakukan kesalahan berarti saya sendiri yang akan menanggungnya. Enak kan jadi karyawan? Melakukan kesalahanpun yang rugi perusahaan, bukan kita hehe.. tapi, ini hal yang saya suka, saya ingin belajar menjadi pribadi yang menyalahkan diri sendiri atas lemahnya lingkungan, bukan menyalahkan semua kecuali diri sendiri.
Jadi, mana yang lebih baik, menjadi karyawan atau pengusaha?
Sebagai manusia yang punya kebebasan memilih, saya merasa berhak memilih jalan hidup saya. Jika saya menginginkan kekayaan, keamanan dan rutinitas, hidup yang tidak banyak berubah, menjadi karyawan sudah cukup. Apalagi lingkungan saya sendiri terdiri dari lebih banyak berprofesi sebagai karyawan dan banyak teman saya menginginkan kehidupan seperti ini. Jadi, bila saya tetap jadi karyawan minimal saya tidak sendiri. Hehe.. Namun, ternyata saya menginginkan waktu, kebebasan dan petualangan, maka  saya mungkin perlu memikirkan cara-cara menjadi seorang pengusaha yang baik.

Kado dari istri tercinta
Bersyukur sekali saya di anugrahkan Tuhan seorang istri yang sangat mengerti saya, dia selalu mendukung saya terhadap apapun pilihan saya. Meskipun saya merasakan penolakan di dalam hatinya saat awal saya memutuskan untuk berhenti jadi karyawan dan menjadi pengangguran, namun saya yakin rasa sayangnya pada diri saya mengalahkan penolaknnya itu dan kemudian mendukung keputusan saya. Thanks Darl...
Sebagai wujud dukungan istri atas keputusan saya, pada ultah saya yg ke-30 tgl 15 Agustus 2011 saya mendapat kado spesial yaitu buku “A Gift From A Friend” yang ditulis oleh Merry Riana.

Apa yang ada dalam buku ini?
Hampir 2 bulan berlalu setelah saya dapat hadiah buku ini, namun saya belum juga membacanya. Hehe… saking sibuknya bersenang-senang.. (orang pintar terlalu serius, orang idiot suka bersenang-senang) hmm… semakin kelihatan ya.
Sebelumnya, saya tidak begitu tau siapa Merry Riana, sampai pada saat saya menulis blog ini saya baru saja selesai membaca buku hadiah ultah ini. Wow, dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan “Buku ini sangat luar biasa…!” sangat menginspirasi dan memberi semangat yang dasyat, pantas bila buku ini menjadi buku best seller.
Dalam buku ini diceritakan perjalanan hidup seorang Merry Riana dari seorang gadis biasa yang merantau di Singapura, belajar di negeri orang dengan segala keterbatasannya tetapi berhasil menjadi menjadi miliarder pada usia 26 tahun. Kalimat-kalimat dalam buku ini sangat sederhana sehingga mudah dimengerti oleh otak saya yang pas-pasan ini. Saya suka sekali dengan gaya bahasa Merry yang bisa memberi motivasi tanpa saya merasa di gurui. Dia berbagi bagaimana cara dia memandang hidup. dan dalam buku ini mengajarkan saya tentang pelajaran hidup, semangat, kerja keras dan kasih sayang. Sangat mencerahkan.. Namun satu hal yang saya kurang setuju adalah harga buku ini terlalu murah dibanding dengan pengalaman yang sudah dilalui oleh Merry Riana.
Buku "A Gift From A Friend" oleh Merry Riana

Kamis, 18 Agustus 2011

Pilih Mario Teguh atau Bob Sadino?


Serasa ga sabar menunggu hari minggu malam pukul 20.00 wita, saya sangat menyukai acara di Metro TV ini. iya benar, "Mario Teguh Golden Ways" acara tv kesukaan saya saat ini, sampai-sampai istri ga berani ganggu bila acara ini sudah mulai. Maafkan suamimu Darl.. perhatian suamimu berpaling darimu 1 jam. hahaha...
Awalnya juga sering baca artikel dari Bob Sadino Seorang pengusaha nyentrik, kontroversial namun sukses dengan ilmu belajar goblognya.. hmm...bingung juga belajar pada 2 guru yang berbeda sudut pandang..
mereka adalah 2 orang sukses mempunyai pendapat berbeda dalam meraih kesuksesan, Bob Sadino vs Mario Teguh ? Berikut ini adalah Statment-statment mereka...



Bapak Mario Teguh
MARIO TEGUH

"Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil. Pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil, apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya."




Om Bob Sadino

BOB SADINO

"mau kaya? berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan."










Kedua pendapat tersebut bagi saya sebetulnya sama-sama benar, hanya saja sudut pandang mereka yang berbeda, statement om bob bukan untuk ditelan mentah2 akan tetapi ada pesan-2 yang tersirat didalam statementnya. Sudut pandang om bob berbicara dari sisi seorang sikap bisnisman sejati, sedangkan Pak Mario Teguh berbicara dari sisi keberhasilan dalam berkopentisi didunia profesionalism...Dan benang merah yang bisa sy tarik dari guru2 saya ini adalah mereka sama2 punya "keberanian".

Daripada bingung, akhirnya dapat disimpulkan, motivator terbaik untuk saya adalah diri saya sendiri. tidak ada yang dapat mengubah hidup saya selain diri saya sendiri. sering saya mendengar musuh terbesar adalah diri saya sendiri, mungkin ini benar bila diri ini tidak baik, jadi saya harus kalahkan sisi dari diri sendiri yang tidak baik, baru bisa mencapai tangga yang lebih tinggi. tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Bukan oka widnya (edit dengan sotosoft)


knowledge is nothing, applying what you know is everything.