Tampilkan postingan dengan label orang bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang bali. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2012

Memori masa kecil


Teringat sebuah acara dialog interaktif di sebuah TV yang narasumbernya seorang profesor dalam bidang psikologi, sayang saya lupa namanya. Beliau menyebutkan kehidupan kita sekarang banyak dipengaruhi memori masa kecil kita, pernyataan ini diperkuat lagi saat saya mendengarkan salah satu audiobook dari TDW dgn topik 'Bagaimana mendapatkan apa yg benar-benar kita inginkan'. Kemudian saya hubungkan dengan kehidupan saya sekarang yang memiliki banyak mental blok yg menghambat pertumbuhan kehidupan. Salah satunya adalah mencari kesalahan orang lain (kambing hitam) atas lemahnya kehidupan saya sekarang, menyalahkan pemerintah yg korupsi, presiden yg tidak tegas, perusahaan yg tidak adil, orang tua yang tidak kaya, sehingga saya tidak melihat kesalahan diri yang menyebabkan saya memerlukan perbaikan diri. 
good boy.. :)

Hmm.. Ternyata salah satu penyebab mental blok ini disebabkan memori masa kecil saya yang saat jatuh nabrak meja, orang tua memukul meja supaya saya diam tidak menangis lagi. Mungkin maksud orang tua baik, supaya saya tidak menangis lagi, tanpa mereka sadari hal itu membuat saya lemah sekarang. Teringat juga waktu sy Sekolah Dasar (SD), saat disuruh ke depan mengerjakan tugas di papan tulis sy ditertawakan temen2 dan di bentak dan dimarahi guru karena tidak bisa mengerjakannya. Memori masa kecil ini tersimpan di otak bawah sadar sebagai sebuah penderitaan, dan karena otak bekerja untuk melindungi saya dari penderitaan lagi, maka setiap saya mau tampil di depan umum pikiran bawah sadar saya melarangnya supaya sy tidak menderita lagi, karena di memori bawah sadar sudah tersimpan data 'maju kedepan kelas adalah penderitaan' sehingga otak merespon dengan memberi rasa takut, bahkan bila saya paksakan lutut jadi gemetar.. :) Sebuah perasaan takut yg tidak pada tempatnya. Hemm.. Perlindungan lebay dari pikiran bawah sadar saya sendiri hehee
Ternyata banyak pola-pola perasaan yg dibentuk dari sejak kecil yang tanpa saya sadari membentuk pola-pola perasaan saya sekarang. Emosi tidak pada tempatnya dan sangat mengganggu hidup saya.
Dalam audiobook TDW ini juga diceritakan misalnya kita pergi ke mall dan melihat seorang anak yg minta dibelikan mainan dengan nangis-nangis sampai gulung-gulung di lantai. Itu awalnya bagaimana ya? Ternyata orang tua salah memberi respon sehingga terjadi suatu hal yg negatif. Contohnya pada waktu anak minta dibelikan mainan anak ini menangis dan merengek kemudian karena ibunya kasihan akhirnya dibeliin supaya diam. Pada waktu sudah dibeliin anak menghubungkan suatu perasaan: 
'Oohh jadi kalo saya kepingin..saya harus nangis!..kalo saya nangis saya bisa mendapatkan yg saya inginkan'
kemudian lama-lama Ibunya merasa bahwa hal ini adalah negatif, sehingga pd waktu anaknya nangis lagi Ibunya bilang:

'Ya sudah.. Kamu nangispun ga akan Ibu belikan..nangis aja.. Ibu tinggal!' 
Maksudnya supaya menyembuhkan kebiasaan nangis anaknya dan supaya anaknya tidak negatif lagi, tetapi anaknya malahan gulung-gulung dilantai, menangis lebih keras. Ibunya pun malu, dan akhirnya dibelikan juga. Kemudian apa yg terjadi? Anaknya mulai mendapatkan satu rangkaian perasaan:
'Oww jadi apabila saya kepingin sesuatu nangis tidak cukup, harus gulung-gulung dilantai, kalo saya gulung-gulung dilantai saya mendapatkan yg saya inginkan, jadi besok kalo saya nangis tidak cukup harus ditambah gulung-gulung'
 Inilah polanya, kemudian berikutnya ketika orang tuanya lama-lama juga capek.. gulung-gulung juga biarin
'Terserah mau nangis boleh.., Ibu tinggal!'
Tetapi setelah mau ditimggal anaknya gulung-gulung ternyata tidak mendapat perhatian, anaknya mulai mencari perhatian dengan cara membenturkan kepala ke lantai. Sehingga orang tuanya kawatir, diteror anak dengan membenturkan kepala, sambil menangis anak teriak:
'wuaa..wuaa... Ibu jahatt!! aku mati aja.. biarin aku mati aja!'
Anak berhasil membuat malu orang tuanya dan berhasil menteror orang tuanya sehingga orang tuanya memutuskan untuk membelikan mainan. Apa yang terjadi? Anaknya mulai belajar lagi:
"Ahaaa...kalo saya nangis tidak cukup, gulung-gulung aja. kalo gulung-gulung kurang berhasil, tambahin benturkan kepala ke lantai'
Misalkan anak ini telah tumbuh menjadi remaja dan kemudian pacaran, namun pacarnya tidak mau pacaran lagi dengan dia. Bukannya dia meningkatkan diri menjadi lebih baik, tapi mungkin dia malah mengancam bunuh diri.
'hikss..hikss.. kalo kamu ga mau bersamaku.. aku akan bunuh diri!!'
mungkin awalnya cuma mau mengancam, tapi celakanya dia tidak pingin mati tapi karena tidak dihiraukan malah mati beneran. 

Dari penjelasan dalam audiobook ini muncul pertanyaan dalam hati saya, saat banyak orang menuduh tindakan terorisme oleh agama tertentu, mungkinkah memori masa kecil anak apapun agamanya berperan dalam menciptakan teroris? mungkinkah tanpa disadari ada peran orang tua yang membentuk anaknya jadi teroris?? 
Bersambung... :)

Teroris juga manusia, anak dari seorang Ibu.. :)



Rabu, 09 Mei 2012

Wisata gratis Pantai Nusa Dua

Banyak orang mengeluh karena menganggur, tapi saya memilih mensyukuri nganggur artifisial ini, yang membuat saya ada banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Sedang asik sendiri di rumah menikmati hari yang indah, sambil berusaha setengah mati membaca sebuah buku dalam bahasa Inggris yang sulit dimengerti, maklum bahasa inggris pas-pasan meskipun sudah lebih dari 6 tahun belajar bahasa inggris, masih juga terasa sulit. Tapi disinilah nikmatnya hehee..
buku saku yang umurnya lebih tua dari usia saya (1973)

Nikmatnya membaca sambil ditemani sebatang coklat, tiba-tiba dapat telpon dari istri bila dikantornya sedang mati listrik. Memang kenapa kalo mati listrik? Juga masih siang kan.. tidak terpikirkan kalo ternyata pekerjaan di komputernya banyak yang belum di simpan, padahal sudah mengerjakannya seharian. Duh kasian juga ya.. saya bisa mengerti perasaan istri, awalnya ingin menasehati dia supaya untuk berikutnya menyimpan pekerjaannya minimal setiap 10 menit, tapi bila saya lakukan itu, dia akan merasa tidak nyaman karena sudah kena musibah, disalahkan pula hehee. Bukan nasehat yg dia butuhkan, meskipun sebetulnya ingin mengingatkan istri sebuah nasehat “selalu menyalahkan diri sendiri terhadap buruknya lingkungan adalah sikap seorang pemimpin”. Tapi ini bukan saat tepat, saya harus pikirkan cara lain untuk menguatkannya. Akhirnya terlintas ide, daripada menyalahkannya, gimana kalo hibur dia dengan mengajaknya jalan-jalan ke pantai Nusa Dua setelah pulang kerja.
Nusa Dua tunggu saya ya..
Untuk menepati janji, tanpa buang waktu saya jemput istri ontime (biasanya sih telat hehe..) dan kami langsung meluncur ke Nusa Dua, sebuah tujuan wisata di pulau Bali yang berada di kawasan elit. Teringat terakhir kali ke pantai Nusa Dua saat masa-masa kuliah.. ya ampunn.. ternyata hampir sepuluh tahun yang lalu ya. Padahal orang dari mancanegara jauh-jauh datang kesini, tapi saya yang asli Bali tidak pernah kesini.. jadi malu sendiri.. hehee, padahal hanya butuh waktu tidak lebih dari 30 menit dari Denpasar ke Nusa Dua.
Ada sedikit perubahan saat memasuki kawasan hotel, kendaraan melewati proses security check, memang agak ribet tapi untungnya satpam nya ramah. Tidak banyak perubahan di kawasan elit yang dikelola BTDC (Bali Tourist Development Corporation) ini, tidak berlebihan bila Nusa Dua disebut BALI (Bersih Aman Lestari dan Indah),  juga sebagai salah satu contoh tempat wisata terbaik di dunia, berbagai hotel dan resort mewah dengan standard internasional terdapat dikawasan Nusa Dua ini. Selain hotel dan resort yang mewah, di kawasan ini terdapat pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, tempat makan, dan juga tempat olahraga.
Papan pengumuman

Setelah parkir, mata saya tertuju pada sebuah papan pengumuman yang isinya menurut saya cukup unik. Pada poin ke-4 disebutkan "Dilarang menembak dan memetik bunga" hmm.. sejak kapan orang disini suka menembak bunga ya?. Juga pada poin ke-5 disebutkan "Dilarang mengacung dan panggang-panggangan" wahh.. untung saya tidak biasa mengacung ke istri, jadi aman lah.. dan bila panggangan cuma sendiri (bukan panggang-panggangan) boleh kali ya.. hehee just kidding
Mungkin karena ketatnya peraturan disini membuat kawasan ini sangat bersih, dan benar-benar tidak ada pedagang acung, sangat berbeda dengan kawasan wisata pantai Kuta ataupun pantai Sanur yang kenyamanan wisatawan kadang diganggu pedagang acung.
Kesan terakhir saya jalan-jalan kesini adalah karena gratis, tidak ada biaya tiket masuk maupun biaya parkir. Juga tidak adanya dagang acung yang mungkin bisa memikat istri saya yang hobi belanja. Jadi bila teman-teman saya yang lagi kere tapi ingin ajak pasangan berwisata gratis, datang aja kesini ya..I Love Bali

Disebut Nusa Dua karena ada 2 pulau kecil disini, yang ini disebut North Island, disebelahnya ada lagi satu pulau kecil yang disebut South Island.


Restoran Bebek Bengil, harus cepat-cepat ajak istri pindah dari sini biar ga belanja dia.. haha

See You soon ND.


Rabu, 28 Desember 2011

Transmigrasi ke Sulawesi


Pada sebuah acara tanya jawab oleh Gubernur Bali di sebuah televisi lokal, seorang mengusulkan kepada Gubernur untuk menghapuskan transmigrasi bagi penduduk Bali, alasannya karena penduduk asli Bali disuruh pergi namun sekarang Bali dipenuhi penduduk pendatang. Awalnya saya setuju dengan pendapat ini, namun setelah Bapak Gubernur menjawab pikiran saya mulai terbuka.
Bagi penduduk asli Bali yang hanya memiliki keahlian bertani, maka transmigrasi adalah solusi, karena lahan di Bali sudah tidak mendukung untuk pertanian yg luas. Trus datang pertanyaan lagi kenapa mereka yang merantau menjadi sukses, dan penduduk asli Bali yang tinggal di Bali terkesan malas dan kalah bersaing dengan para pendatang? Seperti sebuah pernyataan lucu yang beredar di lingkungan saya “Orang Bali jual tanah untuk beli bakso, namun pendatang jual bakso untuk beli tanah di Bali”


Traktor untuk alat transportasi di Sulteng
Sebagai orang asli bali saya merasa sakit hati melihat kenyataan ini, semakin besar keinginan saya meliat kondisi paman yang merantau di Sulawesi Tengah, dan bersyukur sekali sama Tuhan pada tanggal 17 – 25 Desember 2011 saya dan istri diijinkan untuk liburan pacaran ke Sulawesi Tengah menginap dirumah Paman yang sudah transmigrasi dari tahun 70an.
Banyak kendala sebelum kami berangkat, salah satunya pekerjaan istri yang tidak boleh libur seenaknya, berbeda dengan saya yang banyak waktu karena berprofesi sebagai pengangguran.. hehehe.. Namun sangat beruntung istri diijinkan untuk cuti oleh atasannya yang baik.
Masalah keduapun datang, uangnya darimana? Sebagai seorang pengangguran yang sudah tidak bekerja dari bulan Juli 2011 saya akui ini kondisi yang tidak mudah, keputusan idiot saya meninggalkan jabatan dan pekerjaan tetap saya di FIF itu sekarang mulai diuji dengan kurangnya uang seperti sekarang ini, tapi Tuhan menunjukkan kasih sayangnya secara nyata, tidak tau bagaimana kakak saya tercinta Tude Wirawan memberikan saya uang saku yang lumayan besar, sangat cukup untuk biaya pesawat Denpasar-Palu berdua bersama istri. Terimakasih kakak, semoga suatu saat nanti saya bisa membalas kebaikanmu ini.
di Bandara Ngurah Rai Bali.
Hari pertama samapai di Palu yang sebelumnya transit dulu di bandara Ujung Pandang, saya sudah dikejutkan dengan masih jauhnya lokasi tempat tinggal paman dari bandara, masih diperlukan perjalan 5 jam melewati hutan dan jalanan yang berliku naik turun bukit. Sampai di lokasi di RK Padang Sari, Kecamatan Balinggi Jati, kabupaten Parigi Mountong, kami terkejut lagi dengan sambutan saudara-saudara kami yang sudah puluhan tahun tidak pernah ketemu, suasana persaudaraan yang gembira dan penuh kesederhanaan menghiasi suasana itu.
Hari-hari berikutnya kami diantarkan paman mengunjungin saudara lain dari Bali yang juga transmigrasi disana, sangat terasa kesederhanaan dan keramahan mereka. Saya mulai mendengar cerita bagaimana perjuangan mereka ketika baru sampai di lokasi yang belum ada lahan pertanian, hanya hutan belantara yang memaksa mereka untuk bekerja keras mempertahankan hidup karena tidak punya pilihan lain. Hmm…mungkin kondisi ini yang membedakan mereka yang merantau dengan yang tetap tinggal di Bali. Mungkin mereka yang tidak merantau termasuk saya merasa aman dirumah karena masih melihat ada tanah yang bisa di jual kalau kepepet, atau masih melihat banyak saudara yang akan membantu bila saya mendapat musibah. Sangat berbeda dengan kondisi mereka yang merantau, mereka sama sekali tidak ada pilihan lain selain bekerja keras untuk mempertahankan hidup, mungkin ini yang membuat mereka menjadi kuat dan sukses. Yang berita kesuksesan mereka yang merantau terdengar sampai ke Bali, yang pada tahun 90an membuat saya bangga punya paman di Sulawesi, masih ingat juga dahulu keluarga saya sering dikirimi uang dari paman yang merantau Sulawesi.

Bersama paman dan cucu-cucunya di Sulawesi Tengah

Bila dibandingkan dengan kondisi Bali sekarang, yang katanya penduduk Bali terdesak oleh datangnya penduduk pendatang, begitu pula halnya dengan di Sulawesi ini. Paman menceritakan bagaimana penduduk asli Sulawesi terkesan tersingkir oleh datangnya orang Bali. Memang terkesan seperti penjajahan namun itulah yang terjadi, orang Bali datang dengan keahlian bertani dan bekerja keras. Sama sekali orang Bali tidak merasa menjajah, namun penduduk asli menjual tanah mereka demi uang orang Bali. Baru saya sadari kejadian serupa juga terjadi di Bali, banyak teman-teman di Bali merasa terjajah dengan datangnya pendatang, orang Bali menjual tanah mereka karena mengiginkan uang dari pendatang, kemudian mereka menyebut pendatang adalah penjajah. Padahal orang Bali dan saya sendirilah yang tidak mampu bersaing dengan pendatang. Masih mau menyalahkan  pendatang? Atau bagaimana kalo kita belajar dan berusaha lebih keras supaya tidak tersingkir?


Suasana makan yang sederhana tapi nikmat.
Namun seiring berjalannya waktu, para transmigran ini juga mengalami kendala, seperti keadaan paman saya sekarang yang ada sedikit masalah rumah tangga dengan anaknya yang mungkin salah satu pemicunya masalah ekonomi yang tidak sebagus dahulu waktu anak-anaknya masih kecil, yang membuat anak-anak mereka lemah karena dari kecil kebutuhan mereka terpenuhi tanpa harus bekerja keras seperti orang tuanya. Memang hasil pertanian dan perkebunan mereka yang awalnya bagus sekarang mulai terserang banyak penyakit, biaya obat-obatan dan pupuk meningkat sementara hasil pertanian dan kebun menurun yang membuat para petani merugi.

Namun terlepas dari masalah rumah tangga paman, saya dan istri mendapat banyak pengalaman berharga disini, kami jadi mendapat pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah. Pengalaman mereka yang membuat kami lebih berhati-hati menjalani kehidupan, sehingga kesalahan yang telah dialami mereka tidak terulang pada kami. Selain itu kami jadi tahu ternyata di lokasi transmigrasi ini juga banyak terdapat tempat wisata yang tidak kalah indahnya dengan di Bali. Suasana pantai yang masih asri dan sedikit orang, sangat berbeda dengan pantai di bali yang dipenuhi orang.
Pantai Torue yang sepi pengunjung.
Tanpa terasa seminggu sudah kami lewati liburan ini di Sulawesi, saat ingin balik ke Bali terkendala lagi masalah harga tiket yang meroket, dari harga 900ribuan menjadi 2jutaan per tiket, ini mungkin pengaruh hari raya natal dan tahun baru. Sempat terpikir lewat jalur laut supaya lebih hemat yg saat itu hanya 600ribuan namun memakan waktu 3hari untuk sampai Denpasar, sementara istri harus sudah bekerja, sehingga kami putuskan berapapun harga tiket tetap harus kami beli.
Singkat cerita bertepatan dengan hari natal tgl 25 Desember 2011 kami mendarat di Bandara Ngurah Rai pada pukul 18:00 yang saat itu bandara dalam keadaan sembrawut karena dalam proses renovasi. Dan terimakasih buat Pak Nyoman Uthamayasa paman dari istri yang telah meluangkan waktu menjemput sehingga kami bisa menghemat biaya taxi. Hehee..





Masakan khas Sulawesi, ikan bakar sambal dabu-dabu

Bendungan Sausu yang baru diperbaiki





Kampung nelayan Pantai Tumpapa

Disekian banyak wanita, istriku yang paling cantik... @RK Padang Sari, Sulteng

hasil kebun Biji Kakao (coklat) yang baru di jemur


Terimakasih telah bersedia menua bersamaku darl, I Love You.  @ Pantai Tumpapa, Sulteng

Kamis, 15 Desember 2011

Meninggalkan istri

Saat diberitahu oleh Ibu untuk datang ke acara pernikahan saudara di Mataram tgl 7 Desember 2011, ada sebuah keraguan di hati, karena saya tidak terbiasa meninggalkan istri dirumah sendiri. Saya tidak boleh melatih istri terbiasa tanpa saya, dengan cara sering meninggalkannya. Ingin rasanya mengajak istri ikut, namun karena ikatan pekerjaannya membuat dia tidak bisa.
Beruntung saya dianugrahi Tuhan seorang istri yang sangat pengertian, dia mengijinkan saya untuk pergi bersama Ibu selama 4 hari ke Pulau Lombok, meskipun saya bisa melihat dimatanya kalo dia tidak mau berpisah dengan saya walaupun sehari (hehe..GR dikit..), namun dia juga ingin membahagiakan mertuanya, apalagi setelah dia melihat semangat Ibu mertuanya yang menggebu-gebu dan terlihat sangat antusias.
Pada tgl 5 Desember 2011 pukul 6.30 pagi saya dan Ibu ditemani Bumblebee yang selalu setia, kami berangkat menuju Pelabuhan Padangbai yang berjarak 45km dari rumah kami di Penarungan yg kami tempuh dalam waktu 1 jam dan jam 8 pagi kami sudah berada di atas kapal ferry untuk penyeberangan Padangbai-Lembar yang akan memakan waktu 4-5 jam di laut. Benar saja, pukul 12.30 kami sudah berlabuh di pulau Lombok, sebuah pulau yang sudah sering saya kunjungi. Sebuah pulau yang jalanannya dihiasi kotoran cidomo (kereta kuda dengan roda mobil) haha... hanya butuh waktu 30menit dari pelabuhan menuju rumah sodara kami di Jl. Gajahmada, Gg Citra warga, Pagesangan, Mataram, NTB. dan kamipun samapai ditujuan dengan selamat. Thanks God.


Tawa ceria Ibu setelah naik cidomo


Hari pertama disana saya sudah kangen dengan istri saya tercinta, namun  sedikit terobati karena melihat Ibu yg bergembira bisa jalan2 di Lombok naik cidomo, sayapun ikut bahagia melihat kebahagiaan beliau. Namun hari berikutnya saya dan Ibu mulai merasakan kebosanan, apalagi Ibu yang mengira akan banyak persiapan pernikahan yg bisa dia bantu seperti persiapan menikah orang Bali pada umumnya, namun kenyataannya sangat berbeda dengan budaya di Bali yang biasanya udah ada persiapan bahkan 1 bulan sebelum hari H. Sebuah budaya yg sangat berbeda, disana semua perlengkapan bisa di beli, jadi yang punya acara tinggal nunggu hari H semua sudah ada yang menyiapkan. hmm..sangat praktis bukan? mungkin ini salah satu alasan ada sebagian sodara saya di Bali takut menikah dengan alasan adat yang ribet, dan harus mempersiapkan dana puluhan juta dulu hanya untuk upacara saja, belum lagi dana untuk kelahiran dan upacara si anak nanti.

Perlengkapan serba beli, biar santai.
Bila upacara di Bali, bisakah ongkang2 kaki gini? hehe
hanya mengawasi orang kerja

Setelah menunggu 2 hari akhirnya hari H pun tiba, tenda sudah terpasang, dekorasi pun telah memenuhi rumah, sesajen telah siap, juga petugas katring telah siap dengan berbagai macam menu makanannya. Acara pertama di hari H ini adalah penjemputan mempelai wanita di rumahnya, acara yang telah ditunggu-tunggu oleh saya dan Ibu, karena kami juga ingi mengetahui rumah mempelai wanita. Namun karena tidak ada orang lagi dirumah, akhirnya saya mengalah dan memutuskan tinggal dirumah sendiri, tidak ikut kerumah mempelai. Namun karena sedikit kesalahan teknis, Ibu saya yang sudah siap ikut dari pagi malah ditinggal rombongan.. hiks.. wajah kecewa bisa saya lihat di wajah Ibu, bisa saya bayangkan sudah jauh-jauh datang dari Bali malah ditinggal rombongan, ingin rasanya saya antar Ibu tapi gimana mungkin, saya juga tidak tahu tempatnya. jadi tidak ada pilihan lain akhirnya saya dan Ibu hanya bisa menunggu rombongan datang.

usaha menghibur Ibu yang kecewa ditinggal rombongan.

Acara pernikahan pun berjalan dengan lancar, setelah pedanda (pendeta) memimpin upacara, acara resepsipun akhirnya selesai pada pukul 19.00 dan rumahpun kembali sepi. hanya tersisa peralatan yang sudah diongkar lagi oleh tukang dekorasinya. hmm...ini pengalaman tersendiri buat saya, ternyata selama ini saya hanya melihat uapacara pernikahan dari sudut pandang orang Bali saja, padahal saudara saya di Mataram ini juga orang Bali, namun mereka bisa membuat upacara yang simpel, tidak merepotkan warga lain. Membuat semakin jelas saya melihat perbedaan antara adat dan agama, karena di bali 2 hal ini sangat susah di bedakan, dan sudut pandang ini hanya bisa saya dapatkan apabila saya keluar dari Bali karena apabila saya di Bali terus, pengertian saya akan seperti katak dalam tempurung. Mungkin ini yang dimaksud "tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina" yang akan membuat kita mendapat pengertian-pengertian baru. Karena ilmu membuat hidup kita menjadi mudah, agama membuat hidup menjadi terarah, dan cinta membuat hidup menjadi indah.
setelah lama ditunggu, pengantenpun tiba..

adat bali yang mulai modern

Kamis, 24 November 2011

Bangga menjadi orang Bali

Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi tubuh saya yang sudah melewati masa mudanya, hehee..meskipun ga kelihatan tua sih. Dari jam 4 pagi dibangunkan alarm agar saya siap-siap ngayah (kegiatan adat di Bali), 7 ekor babi, 1 ekor anjing dan puluhan ekor ayam dan bebek telah siap dipotong. hmm.. adat di kampung ini memang masih kental, sedikit berbeda dengan perkotaan yang lebih modern.

Namun ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya. Dalam ramainya kegiatan ngayah hari ini,  saya mendengar ada sedikit keluhan saudara-saudara yang merasa keberatan dengan kegiatan adat semacam ini. Di satu sisi orang Bali ingin mempertahankan budaya yang telah membuat Bali terkenal ini, namun di sisi lain, terutama saudara-saudara yg kekurangan dalam materi terlihat terpaksa melakoninya karena anak mereka belum beli buku, belum bayar sekolah namun mereka tidak bisa bekerja karena terikat oleh adat ngayah ini.

Di sisi lain, mereka disuguhkan pemandangan dimana para pendatang yang berhasil jadi pengusaha di Bali, mondar-mandir di jalanan dengan mobil mewahnya. Sedangka mereka sibuk mempertahankan adat, bahkan sulit bekerja untuk menghidupi keluarga.

Yang lebih menyedihkan bagi saya, ada saudara yang sampai rela berhutang karena rasa malu apabila tidak melakukan adat ini. Bisa dibayangkan, untuk upacara ngaben (kematian) bisa menghabiskan dana puluhan juta, sementara rata-rata penghasilan mereka tidak lebih dari 2juta sebulan. Itupun dalam pekerjaan mereka kadang harus sering bolos meninggalkan pekerjaan.

Tidak heran bila ada saudara saya yang bahkan rela menjual tanah warisan leluhur mereka dengan alasan biaya upacara. Oh my God.... Sungguh membuat hati ini miris melihatnya.
Teringat juga dulu waktu saya masih berprofesi sebagai karyawanpun harus rela mengambil cuti untuk kegiatan-kegiatan seperti ini, padahal cuti tersebut mungkin bisa saya ambil untuk berlibur dengan keluarga tercinta.

Sebagai bagian dari masyarakat Bali yang saya cintai ini, sama sekali tidak ada maksud untuk menjelekkan budaya yang indah ini. Saya juga tidak begitu menguasai perbedaan antara Agama dan Adat, saya sering mendengar kegiatan semacam ini adalah kegiatan Agama. Padahal menurut pengertian sederhana saya Agama dan Adat itu tidak sama, Agama=wahyu Tuhan sedangkan Adat/Budaya=buatan manusia. Bagaimana mungkin kegiatan Agama justru malah membuat saudara saya berhutang? Adakah yang salah?


Saya sadar mungkin apa yang saya tulis sekarang akan ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan yang saya sampaikan ini. Karena ini menyangkut masalah sosial yang sensitif.  Teringat sebuah artikel di Bali Post, disampaikan oleh Gubernur Bali Bapak Mangku Pastika, bahwa mayoritas masyarakat Bali tidak pede, apalagi jika harus tampil kedepan bersuara. hahaa..saya sangat setuju dengan pernyataan beliau ini, karena saya sendiri salah satunya. Itu sebabnya hal yang mengganggu pikiran saya ini saya coba keluarkan melalui tulisan di blog ini. Namun sama sekali tidak ada niat saya untuk berdebat, harapan saya kedepannya masyarakat Bali bisa semakin cerdas, santun, jujur dan semakin sejahtera.

Saya bangga menjadi masyarakat Bali, Sebagai orang Bali yang memiliki nama I Made Oka Widnya.
Saya juga merasa bersyukur Tuhan memberikan Bali sebuah keunikan budaya, alam yang indah, pantai, makanan,  tarian, keramah tamahan orangnya, dan keseniannya yang tiada taranya.

Hal ini memang enak, tetapi dalam jangka panjang saya kawatir bisa mengurangi daya saing masyarakat Bali secara nasional atau internasional. Semoga masyarakat Bali terus belajar, menjadi lebih pandai, menjadi pekerja yang ulet, atau menjadi pengusaha yang baik.
model pakaian adat ringan Bali.
pakaian adat berat bersama istri tercinta.